Wataru Kuriyama: Perjalanan Panjang Sang Ryūga Dōgai di GARO
![]() |
| Wataru Kuriyama |
SETOKUSATSU - Dalam dunia peran dan sinema Jepang, terutama genre tokusatsu yang menyasar audiens dewasa, ada nama yang telah terpatri kuat selama lebih dari satu dekade: Wataru Kuriyama. Sebagai aktor yang mengawali debutnya dengan memerankan karakter Ryūga Dōgai, sang "Ksatria Emas" dalam serial GARO: The One Who Shines in the Darkness, Kuriyama telah berhasil menciptakan ikon tersendiri. Perjalanan kariernya yang nyaris identik dengan waralaba GARO menunjukkan bagaimana seorang aktor dan karakter dapat tumbuh bersama, melampaui batasan layar kaca menjadi legenda yang hidup .
Awal Mula dan Kelahiran Seorang Ksatria
Wataru Kuriyama lahir di Tokyo, Jepang, pada tanggal 15 Juni 1991. Memiliki tinggi badan 176 cm dan bergolongan darah A, ia berada di bawah naungan agensi bakat Oscar Promotion . Bagi banyak penggemar GARO, tahun 2013 menjadi tahun yang tak terlupakan karena itulah kali pertama Kuriyama muncul sebagai Ryūga Dōgai dalam serial GARO: Yami o Terasu Mono (牙狼〈GARO〉~闇を照らす者~), yang dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai GARO: The One Who Shines in the Darkness.
Saat itu, Kuriyama masih berstatus sebagai mahasiswa universitas. Ia terpilih melalui proses audisi yang ketat untuk memerankan seorang ksatria makai yang memiliki temperamen membara. Baginya, peran ini bukan sekadar pekerjaan pertama, melainkan sebuah titik awal yang mendefinisikan seluruh kariernya sebagai aktor . Dalam berbagai wawancara, Kuriyama dengan jujur menyatakan bahwa ia belajar segalanya tentang akting dari set produksi GARO. Baginya, GARO adalah akar dari kariernya, sebuah fondasi yang membuatnya tumbuh dan berkembang . Memasuki tahun 2026, Kuriyama telah berusia 34 tahun dan genap 13 tahun menjadi bagian dari alam semesta GARO, sebuah perjalanan waktu yang memperkuat ikatan spiritualnya dengan karakter Ryūga .
Ryūga Dōgai: Lebih dari Sekadar Karakter
Dalam alam semesta GARO, Ryūga Dōgai bukanlah Ksatria Emas pertama. Namun, ia adalah representasi dari era baru waralaba yang diciptakan oleh Keita Amemiya. Berbeda dengan pendahulunya yang lebih kalem dan penuh perhitungan, Ryūga hadir dengan karakteristik yang lebih agresif dan penuh gairah . Pada debutnya di Yami o Terasu Mono, Ryūga digambarkan sebagai seorang ksatria yang cenderung membabi buta dalam menebas musuh-musuhnya (Horror) dengan kekuatan mentah.
Namun, inilah yang membuat perjalanan karakter ini menarik untuk diamati. Selama lebih dari satu dekade, Kuriyama tidak hanya memerankan Ryūga, tetapi ikut serta dalam evolusi karakter tersebut. Ia mengakui bahwa seiring berjalannya waktu, batas antara dirinya dan Ryūga menjadi kabur. "Terkadang saya bertanya-tanya, sejauh mana saya dan sejauh mana karakter ini dimulai. Tapi saya rasa Ryūga juga merasakan hal yang sama. 'Aku senang bertemu denganmu lagi,' mungkin begitu yang akan ia katakan," ungkap Kuriyama dalam sebuah pernyataan resmi menyambut serial terbaru .
Evolusi Akting dan Koreografi Pertarungan
Salah satu aspek paling menarik dari perjalanan Kuriyama sebagai Ryūga adalah perubahan dalam pendekatan akting dan koreografi pertarungan. Dalam serial GARO: Hagane wo Tsugu Mono (2024), Kuriyama menunjukkan bagaimana Ryūga telah berkembang menjadi seorang ahli yang matang. Berbeda dengan masa lalunya yang mengandalkan kecepatan dan kekuatan agresif, Ryūga versi terbaru digambarkan sebagai seorang "guru" yang mampu membaca gerakan lawan dan menggunakan kekuatan mereka sendiri untuk mengalahkan mereka .
Kuriyama menjelaskan bahwa perubahan ini merupakan hasil diskusi yang mendalam dengan sutradara aksi, Masaki Suzumura. Mereka berdua sepakat bahwa setelah bertahun-tahun bertarung, Ryūga seharusnya tidak lagi bergerak dengan cara yang ceroboh. Postur tubuh dan cara ia memegang pedang pun disesuaikan. Dalam wawancara untuk Hagane wo Tsugu Mono, Kuriyama dengan rendah hati mengakui bahwa ia kesulitan menghilangkan kebiasaan lamanya yang memegang pedang dengan dua tangan. Namun, tantangan inilah yang justru membuat proses syuting menjadi lebih menyenangkan dan memberikan nuansa baru pada karakter .
Kembali ke Akar: "The One Who Shines in the Darkness"
Serial GARO: The One Who Shines in the Darkness menjadi fondasi yang tidak hanya memperkenalkan Ryūga, tetapi juga membangun dunia baru yang lebih gelap dan dewasa. Serial ini menandai perbedaan signifikan dari trilogi asli Kouga Saejima. Dalam serial inilah penonton diperkenalkan dengan konsep "Makai Knights" yang berbeda dan "Madōgu" (senjata spiritual) yang unik. Bagi Kuriyama, serial ini adalah tempat ia pertama kali merasakan tekanan sekaligus kebanggaan menjadi pemeran utama waralaba sebesar GARO .
Setelah Yami o Terasu Mono, Kuriyama terus melanjutkan perannya sebagai Ryūga dalam berbagai proyek. Ia muncul dalam GARO: GOLD STORM (2015-2016), yang mengisahkan petualangan Ryūga bersama Rian, pendeta makai yang menjadi pendamping setianya. Penampilannya kemudian berlanjut ke film layar lebar GARO: Kami no Kiba (2018) yang memperdalam konflik batin sang ksatria .
2024: Menyambut Era Baru dengan "Hagane wo Tsugu Mono"
Setelah jeda beberapa tahun, waralaba GARO kembali hadir dengan GARO: Hagane wo Tsugu Mono pada Januari 2024. Serial ini menandai kembalinya Ryūga setelah hampir enam tahun sejak penampilan terakhirnya di film Kami no Kiba. Bagi Kuriyama, proyek ini terasa istimewa karena ia sempat khawatir bahwa GARO mungkin telah berakhir. "Saya sangat khawatir dengan absennya serial GARO, jadi saya sangat senang mereka memproduksi serial baru setelah bertahun-tahun, dan lebih senang lagi karena ini adalah serial tentang Ryūga," ujarnya dengan penuh rasa syukur .
Hagane wo Tsugu Mono menghadirkan dinamika baru dengan memperkenalkan karakter Soma Shirahane, seorang ksatria muda yang mengenakan armor "Hagane" (Baja). Dalam serial ini, Ryūga tidak lagi menjadi tokoh yang dominan sendirian, tetapi berperan sebagai mentor dan pemandu bagi generasi baru. Kuriyama mengakui bahwa ada tekanan baru karena setengah dari kru produksi adalah orang-orang baru yang belum pernah bekerja di GARO. Namun, justru karena itu ia merasa memiliki tanggung jawab untuk mewariskan esensi dan semangat GARO kepada generasi penerus .
2026: Menuju Puncak dengan "Higashi no Kairou"
Tahun 2026 menjadi tahun yang monumental bagi penggemar Ryūga. Pada 29 Januari 2026, serial terbaru berjudul GARO: Higashi no Kairou (牙狼<GARO> 東の界楼) atau "The Tower of the Eastern Realm" mulai tayang di Tokyo MX dan BS Nittele . Serial yang terdiri dari 9 episode ini menjadi bukti bahwa waralaba GARO terus bergerak maju, dengan Kuriyama tetap setia di garda terdepan.
Yang membuat Higashi no Kairou sangat dinanti adalah kembalinya Miki Nanri sebagai Rian, pendeta makai yang menjadi pendamping setia Ryūga. Nanri terakhir kali muncul dalam GARO: Kami no Kiba (2018), membuat jeda kehadirannya mencapai delapan tahun . Kuriyama mengakui bahwa meskipun ia tetap berhubungan dengan Nanri di luar syuting, momen mereka beradu akting kembali sebagai Ryūga dan Rian memberikan sensasi yang berbeda. Sebelum melihat Nanri dalam kostum, ia sempat merasa cemas, namun kekhawatiran itu segera sirna begitu ia menyaksikan bahwa Nanri masih memiliki kehadiran yang sama kuatnya, bahkan dengan pertumbuhan karakter yang lebih matang .
Serial ini juga memperkenalkan karakter-karakter baru yang menarik. Taichi Kodama berperan sebagai Rektoru, seorang pendeta makai yang bertugas mengawasi Ryūga. Kuriyama menyebutkan bahwa hubungan antara Ryūga dan Rektoru menjadi salah satu poin menarik yang patut disimak oleh penonton. Selain itu, Kanon Miyahara hadir sebagai Erumina, dayang dari suku naga dan pendeta makai yang memiliki kemampuan bertarung tinggi. Kuriyama secara khusus menyoroti kualitas adegan aksi bersama Miyahara yang menurutnya berada di level istimewa .
Tantangan Produksi Modern
Salah satu aspek paling menarik dari Higashi no Kairou adalah metode produksinya. Untuk pertama kalinya dalam waralaba GARO, serial ini direkam sepenuhnya menggunakan teknik chroma key dan komposisi real-time. Artinya, tidak ada lokasi syuting luar ruangan; semuanya dibangun di dalam studio dengan latar belakang digital .
Bagi Kuriyama, ini merupakan tantangan tersendiri. Tanpa lingkungan fisik yang nyata, ia harus mengandalkan imajinasi untuk merasakan elemen seperti suhu, angin, dan ruang. Ia mengaku harus lebih fokus dan sering berkonsultasi dengan tim efek visual untuk memahami seperti apa tampilan dunia digital di sekitarnya sebelum mulai berakting. Namun, di balik kesulitan tersebut, metode ini juga memberikan keuntungan praktis. Dengan lantai studio yang rata dan terkontrol, risiko cedera saat syuting adegan aksi berkurang drastis dibandingkan jika syuting di lokasi luar ruangan yang tidak menentu .
Kepemimpinan di Balik Layar
Higashi no Kairou ditangani oleh tiga sutradara sekaligus: Masaki Suzumura, Yoshikatsu Kimura, dan Kiyotaka Taguchi. Kuriyama menyatakan bahwa ia sudah mengenal Suzumura dan Kimura dari proyek-proyek sebelumnya, sehingga ia memiliki kepercayaan penuh karena mereka memahami esensi GARO. Yang menarik perhatiannya adalah kehadiran Kiyotaka Taguchi. Kuriyama bercerita bahwa Taguchi menyatakan kekagumannya secara langsung terhadap fase awal GARO. Ia mengamati perubahan dalam postur Taguchi saat syuting dimulai, dan dengan nada bercanda menyebut bahwa Taguchi memiliki kemampuan yang sangat kuat dalam mengarahkan adegan-adegan yang melibatkan karakter yang dirasuki oleh Horror, seolah-olah ia ikut berakting di dalamnya .
"Sampai ke Guinness World Records"
Salah satu pernyataan paling menarik dari Kuriyama belakangan ini adalah keinginannya untuk terus memerankan Ryūga hingga tercatat dalam Guinness World Records. Meskipun diucapkan dengan nada santai, pernyataan ini menjadi simbol dari komitmen jangka panjangnya terhadap waralaba GARO. Bagi Kuriyama, Ryūga bukan sekadar karakter yang ia tinggalkan setelah syuting selesai. Ia merasa bertanggung jawab untuk mempertahankan integritas karakter tersebut .
Seiring berjalannya waktu, para kru produksi mulai secara langsung bertanya kepadanya, "Apa yang akan Ryūga pikirkan dalam situasi ini?" Hal ini menunjukkan betapa dalamnya pemahaman Kuriyama terhadap karakter yang telah ia mainkan selama 13 tahun. Ia merasa lebih percaya diri untuk memberikan pendapat dan masukan, terutama karena ia telah mengumpulkan pemahaman yang sangat spesifik tentang Ryūga .
Warisan dan Masa Depan
Bagi Kuriyama, GARO adalah segalanya. Dalam sebuah wawancara yang emosional, ia menyatakan bahwa GARO adalah bagian dari kariernya sebagai aktor dan merupakan pekerjaan seumur hidupnya . Dedikasi ini bukan tanpa alasan. Selama lebih dari satu dekade, ia telah menyaksikan bagaimana waralaba ini bertahan dan dicintai oleh penggemar. Ia percaya bahwa rahasia dari panjang umur GARO terletak pada cinta sejati yang dimiliki oleh seluruh kru dan staf. Mereka bekerja keras setiap hari untuk menghasilkan adegan-adegan terbaik, dan cinta itulah yang pada akhirnya dirasakan oleh penonton .
Dengan jadwal tayang GARO: Higashi no Kairou yang berlangsung hingga tahun 2026, para penggemar masih memiliki banyak waktu untuk menikmati penampilan Wataru Kuriyama sebagai Ryūga Dōgai. Lagu tema yang dibawakan oleh JAM Project dengan judul "RR -Fate of saviour-" semakin menambah semarak kembalinya serial ini .
Kehidupan Pribadi
Di luar kesibukannya sebagai aktor, Kuriyama menjalani kehidupan pribadi yang tenang. Pada bulan November 2020, ia mengumumkan kabar bahagia melalui agensinya bahwa ia telah menikah. Keputusan untuk mengumumkan secara resmi menunjukkan sikap profesional dan transparannya kepada publik .
Wataru Kuriyama telah membuktikan bahwa ia bukan sekadar aktor yang kebetulan memerankan seorang ksatria emas. Ia adalah penjaga obor waralaba GARO di era modern. Perjalanannya dari seorang mahasiswa yang baru pertama kali berakting hingga menjadi aktor senior yang dihormati adalah cerminan dari dedikasi, kerja keras, dan cinta terhadap karya. Ketika Ryūga Dōgai bersinar dalam kegelapan, Wataru Kuriyama juga bersinar sebagai salah satu pilar terpenting dalam sejarah tokusatsu Jepang.
